Sabtu, 08 Agustus 2015

Kemilau

Halo... De. Ini Dillah. Masih inget kan? Hehe. Kita mau kumpul-kumpul nih. Ada waktu kosong gak lu? Kalo ada kabarin ya? Kita kumpul jam 3 sore nanti. Oke? See you.” Dengan mata masih sedikit terpejam Ade mengecek Whatsapp-nya.
            “Abdillah...”
            Abdillah, teman satu SMA Ade. Bukan teman sekelas. Hanya kenal karena pergaulan sesama angkatan. Mungkin dia baru pulang dari Australia. Jadinya dia ngajak kita kumpul-kumpul, begitu pikir Ade.
            Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Minggu-minggu ini pekerjaan Ade sedang dalam puncak-puncaknya, alias deadline. Rasa suntuk melanda dirinya. Bisa-bisanya orang lagi ketar-ketir kerja gini, diajak kumpul. Tapi hari Minggu ini Ade juga tidak ada kegiatan berarti. Kebiasaannya tiap akhir pekan hanya menonton pertunjukkan idol group di sebuah mal di kawasan Jakarta Pusat. Tapi hari ini Ade kalah undian. Ya sudah lah.
            “Oke. Gue ikut Dil.” balas Ade di Whatsapp-nya.
            Ade masih malas mandi. Di rumah yang lumayan mewah ini Ade tinggal sendiri. Paling hanya ada teman satu kantornya yang menumpang nginep. Berbagai macam alasan, ada yang malas pulang, ada yang cuma mau nginep aja, ada pula yang pulang kemaleman, jadi “dikunciin istri De.”
            Istri? Ade sudah 25 tahun. Usia segini harusnya sudah cari perempuan supaya bisa dijadikan istri. Tapi, Ade kadang cuma melipir jika ada pertanyaan seperti itu. Dia hanya geleng-geleng atau sambil tersenyum sungging karena malas meladeni pertanyaan seperti itu hampir setiap hari.
            Ade mulai menyalakan shower yang terasa dingin walaupun sudah siang begini. Rasa dingin yang menusuk sambil merenungi dirinya, ada apa? Segalanya dia punya, apapun yang ketika muda tidak bisa ia capai, bisa ia dapatkan. Tapi, dalam diri Ade, seperti ada yang kurang. Ade pasti memikirkan seseorang di dalam pikirannya. Sudah pasti itu, tidak meleset.
            Kemilau. Ya, cewek paling cantik di kelas Ade dulu. Mungkin setelah Dillah mengabari acara kumpul-kumpul itu, Ade berpikir apakah Kemilau akan datang? Apakah Kemilau masih ingat dirinya? Apakah Kemilau masih cantik seperti dulu? Pertanyaan seperti itu terus berputar dalam pikiran Ade.
***
            Hampir setengah jam Ade mandi sembari memikirkan pertanyaan tadi. Rasanya Ade makin penasaran seperti apa rupanya Kemilau setelah lama tidak berjumpa. Terakhir Ade bertemu Kemilau yaitu ketika malam kelulusan SMA, ketika mereka berdua bertukar bunga di malam itu.
            “Kemilau. Aku mau kamu tetap ingat aku. Kita akan jauh terpisah hampir ribuan kilometer. Mungkin aku juga akan jarang bertemu kamu. Aku pasti bakalan kangen sama kamu.” kenang Ade waktu itu.
            “Aku pasti bakal ingat kamu terus kok. Kamu harus fokus kejar impian kamu De. Aku pasti akan dukung kamu. Jangan khawatirkan hubungan kita. Jauh dekat tidak masalah untukku. Karena aku yakin, kamu pasti bakal pulang kok. Intinya, cepat pulang, cepat lulus, kalau perlu cum laude-lah untukku. Hehe.” kata Kemilau sambil memeluk erat tubuh Ade seakan tidak ingin berpisah darinya. Ade memang setelah SMA melanjutkan kuliahnya di Kanada. Untuk pulang ke Jakarta saja hanya saat liburan, tidak sering. Karena Ade juga berkerja sambil kuliah. Hampir tidak ada waktu luang untuknya.
            Hingga pada suatu malam, di saat Ade sedang lelah penatnya bekerja, dan usahanya mengejar cum laude. Datang telepon jauh dari Jakarta.
            “Kemilau...”
            “Halo?” Ade menjawab telepon yang ternyata dari Kemilau.
            “Halo. Bagaimana kabar Ade? Apakah Ade sehat?” jawab Kemilau dengan ciri khasnya, seperti seorang resepsionis hotel.
            “Maaf, Mbak. Disini sudah bayar tagihan hotelnya kok, Mbak.” balas Ade.
            “Haha. Garing kamu De.” jawab Kemilau sambil tertawa.
            “Biarin”
            Seketika suasana hening.
            “Ade, ada sesuatu yang harus aku bicarakan sama kamu.” Kemilau tiba-tiba menjadi serius. Tidak biasanya dia seperti ini, pikir Ade.
            “Apa sayang?” jawab Ade.
            “Aku gak kuat De. Aku gak sanggup lama-lama jauh dari kamu. Aku tetap mendukung kamu untuk menggapai impian kamu. Aku tidak melarang. Dan aku bicara seperti ini bukan untuk menjatuhkan moral kamu. Tapi, jujur saja. Aku sudah gak kuat De. Aku mau kamu selalu di dekat aku De...”
            “Tapi Kem...” potong Ade.
            “Tunggu dulu! Aku sayang kamu De. Tapi maaf. Aku mau kita udahan. Kamu terus kejar impian kamu ya De? Jangan jadikan aku sebagai halangan kamu. Dari sini aku selalu mendoakan kamu kok De. Kamu gak salah apa-apa. Cuma aku saja yang mungkin sudah tidak sanggup lagi berhubungan jauh. Tidak mungkin aku menyuruhmu untuk pulang dan berlutut dihadapanku ya kan? Hehe” balas Kemilau.
            Ade terdiam sejenak. Rasanya air mata ini ingin menetes saja. Ade masih terdiam tidak menjawab telepon itu sama sekali.
            “Aku sayang kamu Ade...” sambil sedikit terisak Kemilau mengakhiri teleponnya.
            Dengan lesu sambil masih menggenggam gagang telepon, di motel yang sepi ini, di malam yang terasa dingin khas musim dingin, Ade masih memikirkan apa yang telah diucapkan Kemilau barusan. Ade ingin menangis, namun tidak bisa. Ade hanya bisa tertunduk sambil sesekali air mata mengalir membasahi pipinya itu. Ade memang tidak salah, Kemilau juga tidak salah. Jaraklah yang sebenarnya salah. Kenapa harus Kanada? Tapi percuma saja, di depan mata cum laude sudah menanti. Ade tidak bisa mundur. Ade harus terus maju.
            Setelah kejadian itu, setelah Ade juga cum laude, Kemilau tidak pernah menghubungi Ade lagi. Bahkan untuk menanyakan tentang cum laude-nya yang awalnya hanya untuk Kemilau. Hingga sekarang, Kemilau seperti hilang ditelan bumi. Rumahnya juga telah pindah. Ade juga rasanya malas menanyakan hal ini kepada teman-temannya. Teman SMA Ade jarang berhubungan walaupun media sosial sudah menjamur jaman sekarang.
***
            Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Ade sudah selesai sholat zuhur. Ade memutuskan untuk jalan saja. Karena tempat janjian yang lumayan jauh dan macet. Ade mulai memanasi mobilnya, dan kemudian mulai meluncur ke lokasi.
            Sejam kemudian Ade telah sampai di sebuah kafe. Kafe dengan nuansa perkebunan di tengah kota. Banyak sekali bunga-bunga yang bermekaran di hampir seluruh penjuru kafe. Menambah sedap pemandangan di tengah hiruk pikuk kota metropolitan. Ade menarik nafas dengan perlahan sambil menikmati kesejukkan yang ia nikmati siang ini.
           

Di luar jadwal yang telah ditentukan, akhirnya yang ditunggu pun tiba. Abdillah datang bersama dengan Niken, pacar sekaligus istrinya. Rudi dan Ika juga datang. Sebetulnya hanya Kemilau yang belum datang, karena mereka sudah seperti sahabat, ya walaupun setiap kumpul selalu triple date.
“Halo pak insinyur, lama tidak berjumpa.” Celetuk Dillah sambil menghampiri meja Ade.
“Biasa aja ah.” balas Ade ketus.
“Seperti biasa bapak ini.” sambar Rudi yang tiba bersama Abdillah.
“Halo adik cantik, kamu sudah dewasa ternyata.” goda Ade ke Niken.
“Ih, kak Ade apaan sih. Cubit nih??” kata Niken sambil mencubit lengan Ade.
“Wah sudah lama ya kita tidak kumpul bareng lagi?” buka Abdillah.
“Alaahh.. Lu cuma mau pamer double date doang ya disini?” balas Ade.
“Yee biasa aja dong bapak, jangan baper. Hehe” Ika menyambar.
“Gini, Ka. Cuma gue yang masih jomblo disini. Emang dasar ye lu padaan.” Kata Ade.
“Hahahaha...” sontak mereka berempat tertawa melihat ekspresi Ade.
“Oh iya, ngomong-ngomong. Kok kumpul disini? Lumayan jauh dari rumah gue sekarang.” kata Ade.
“Sebentar.” Dillah memotong pembicaraan dan kemudian memanggil pelayan. Dillah terlihat membisikkan sesuatu kepada si pelayan itu dan dibalas dengan anggukkan si pelayan.
“Nggak, De. Gini. Disini tuh enak aja rasanya. Oh iya, De. Gimana kerjaan?” lanjut Dillah.
“Seperti biasa, Dil. Lumayan sibuk. Ada proyek baru.” balas Ade.
Ketika mereka asyik mengobrol, tiba-tiba seorang wanita cantik, berambut hitam sebahu, datang menghampiri meja mereka berlima. Wajah yang ternyata tidak asing bagi mereka.
“Selamat siang, bapak insinyur. Ada yang bisa dibantu?” suara ini sangat tidak asing bagiku, pikir Ade. Ade langsung menoleh ke belakang, dan terang saja, seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Setelah kurang lebih 5 tahun berpisah tanpa adanya kabar. Ade kembali terdiam sembari sedikit mengingat-ingat siapa gerangan. Tidak lama kemudian, Ade pun tersadar...
“Kemilau...”
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar