“Halo... De. Ini Dillah.
Masih inget kan? Hehe. Kita mau kumpul-kumpul nih. Ada waktu kosong gak lu?
Kalo ada kabarin ya? Kita kumpul jam 3 sore nanti. Oke? See you.” Dengan
mata masih sedikit terpejam Ade mengecek Whatsapp-nya.
“Abdillah...”
Abdillah, teman satu SMA Ade. Bukan teman sekelas. Hanya
kenal karena pergaulan sesama angkatan. Mungkin dia baru pulang dari Australia.
Jadinya dia ngajak kita kumpul-kumpul, begitu pikir Ade.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Minggu-minggu ini
pekerjaan Ade sedang dalam puncak-puncaknya, alias deadline. Rasa suntuk
melanda dirinya. Bisa-bisanya orang lagi ketar-ketir kerja gini, diajak kumpul.
Tapi hari Minggu ini Ade juga tidak ada kegiatan berarti. Kebiasaannya tiap
akhir pekan hanya menonton pertunjukkan idol group di sebuah mal di
kawasan Jakarta Pusat. Tapi hari ini Ade kalah undian. Ya sudah lah.
“Oke. Gue ikut Dil.” balas Ade di Whatsapp-nya.
Ade masih malas mandi. Di rumah yang lumayan mewah ini
Ade tinggal sendiri. Paling hanya ada teman satu kantornya yang menumpang nginep.
Berbagai macam alasan, ada yang malas pulang, ada yang cuma mau nginep aja, ada
pula yang pulang kemaleman, jadi “dikunciin istri De.”
Istri? Ade sudah 25 tahun. Usia segini harusnya sudah
cari perempuan supaya bisa dijadikan istri. Tapi, Ade kadang cuma melipir
jika ada pertanyaan seperti itu. Dia hanya geleng-geleng atau sambil tersenyum
sungging karena malas meladeni pertanyaan seperti itu hampir setiap hari.
Ade mulai menyalakan shower yang terasa dingin
walaupun sudah siang begini. Rasa dingin yang menusuk sambil merenungi dirinya,
ada apa? Segalanya dia punya, apapun yang ketika muda tidak bisa ia capai, bisa
ia dapatkan. Tapi, dalam diri Ade, seperti ada yang kurang. Ade pasti
memikirkan seseorang di dalam pikirannya. Sudah pasti itu, tidak meleset.
Kemilau. Ya, cewek paling cantik di kelas Ade dulu.
Mungkin setelah Dillah mengabari acara kumpul-kumpul itu, Ade berpikir apakah
Kemilau akan datang? Apakah Kemilau masih ingat dirinya? Apakah Kemilau masih
cantik seperti dulu? Pertanyaan seperti itu terus berputar dalam pikiran Ade.
***
Hampir setengah jam Ade mandi sembari memikirkan
pertanyaan tadi. Rasanya Ade makin penasaran seperti apa rupanya Kemilau
setelah lama tidak berjumpa. Terakhir Ade bertemu Kemilau yaitu ketika malam
kelulusan SMA, ketika mereka berdua bertukar bunga di malam itu.
“Kemilau. Aku mau kamu tetap ingat aku. Kita akan jauh
terpisah hampir ribuan kilometer. Mungkin aku juga akan jarang bertemu kamu.
Aku pasti bakalan kangen sama kamu.” kenang Ade waktu itu.
“Aku pasti bakal ingat kamu terus kok. Kamu harus fokus
kejar impian kamu De. Aku pasti akan dukung kamu. Jangan khawatirkan hubungan
kita. Jauh dekat tidak masalah untukku. Karena aku yakin, kamu pasti bakal
pulang kok. Intinya, cepat pulang, cepat lulus, kalau perlu cum laude-lah
untukku. Hehe.” kata Kemilau sambil memeluk erat tubuh Ade seakan tidak ingin
berpisah darinya. Ade memang setelah SMA melanjutkan kuliahnya di Kanada. Untuk
pulang ke Jakarta saja hanya saat liburan, tidak sering. Karena Ade juga
berkerja sambil kuliah. Hampir tidak ada waktu luang untuknya.
Hingga pada suatu malam, di saat Ade sedang lelah
penatnya bekerja, dan usahanya mengejar cum laude. Datang telepon jauh
dari Jakarta.
“Kemilau...”
“Halo?” Ade menjawab telepon yang ternyata dari Kemilau.
“Halo. Bagaimana kabar Ade? Apakah Ade sehat?” jawab
Kemilau dengan ciri khasnya, seperti seorang resepsionis hotel.
“Maaf, Mbak. Disini sudah bayar tagihan hotelnya kok,
Mbak.” balas Ade.
“Haha. Garing kamu De.” jawab Kemilau sambil
tertawa.
“Biarin”
Seketika suasana hening.
“Ade, ada sesuatu yang harus aku bicarakan sama kamu.”
Kemilau tiba-tiba menjadi serius. Tidak biasanya dia seperti ini, pikir
Ade.
“Apa sayang?” jawab Ade.
“Aku gak kuat De. Aku gak sanggup lama-lama jauh dari
kamu. Aku tetap mendukung kamu untuk menggapai impian kamu. Aku tidak melarang.
Dan aku bicara seperti ini bukan untuk menjatuhkan moral kamu. Tapi, jujur saja.
Aku sudah gak kuat De. Aku mau kamu selalu di dekat aku De...”
“Tapi Kem...”
potong Ade.
“Tunggu dulu! Aku sayang kamu De. Tapi maaf. Aku mau
kita udahan. Kamu terus kejar impian kamu ya De? Jangan jadikan aku sebagai
halangan kamu. Dari sini aku selalu mendoakan kamu kok De. Kamu gak salah
apa-apa. Cuma aku saja yang mungkin sudah tidak sanggup lagi berhubungan jauh.
Tidak mungkin aku menyuruhmu untuk pulang dan berlutut dihadapanku ya kan? Hehe”
balas Kemilau.
Ade terdiam sejenak. Rasanya air mata ini ingin menetes
saja. Ade masih terdiam tidak menjawab telepon itu sama sekali.
“Aku sayang kamu Ade...” sambil sedikit terisak
Kemilau mengakhiri teleponnya.
Dengan lesu sambil masih menggenggam gagang telepon, di
motel yang sepi ini, di malam yang terasa dingin khas musim dingin, Ade masih
memikirkan apa yang telah diucapkan Kemilau barusan. Ade ingin menangis, namun
tidak bisa. Ade hanya bisa tertunduk sambil sesekali air mata mengalir
membasahi pipinya itu. Ade memang tidak salah, Kemilau juga tidak salah.
Jaraklah yang sebenarnya salah. Kenapa harus Kanada? Tapi percuma saja, di
depan mata cum laude sudah menanti. Ade tidak bisa mundur. Ade harus
terus maju.
Setelah kejadian itu, setelah Ade juga cum laude,
Kemilau tidak pernah menghubungi Ade lagi. Bahkan untuk menanyakan tentang cum
laude-nya yang awalnya hanya untuk Kemilau. Hingga sekarang, Kemilau
seperti hilang ditelan bumi. Rumahnya juga telah pindah. Ade juga rasanya malas
menanyakan hal ini kepada teman-temannya. Teman SMA Ade jarang berhubungan
walaupun media sosial sudah menjamur jaman sekarang.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Ade sudah selesai
sholat zuhur. Ade memutuskan untuk jalan saja. Karena tempat janjian yang
lumayan jauh dan macet. Ade mulai memanasi mobilnya, dan kemudian mulai
meluncur ke lokasi.
Sejam kemudian Ade telah sampai di sebuah kafe. Kafe
dengan nuansa perkebunan di tengah kota. Banyak sekali bunga-bunga yang
bermekaran di hampir seluruh penjuru kafe. Menambah sedap pemandangan di tengah
hiruk pikuk kota metropolitan. Ade menarik nafas dengan perlahan sambil
menikmati kesejukkan yang ia nikmati siang ini.
Di
luar jadwal yang telah ditentukan, akhirnya yang ditunggu pun tiba. Abdillah
datang bersama dengan Niken, pacar sekaligus istrinya. Rudi dan Ika juga
datang. Sebetulnya hanya Kemilau yang belum datang, karena mereka sudah seperti
sahabat, ya walaupun setiap kumpul selalu triple date.
“Halo
pak insinyur, lama tidak berjumpa.” Celetuk Dillah sambil menghampiri meja Ade.
“Biasa
aja ah.” balas Ade ketus.
“Seperti
biasa bapak ini.” sambar Rudi yang tiba bersama Abdillah.
“Halo
adik cantik, kamu sudah dewasa ternyata.” goda Ade ke Niken.
“Ih,
kak Ade apaan sih. Cubit nih??” kata Niken sambil mencubit lengan Ade.
“Wah
sudah lama ya kita tidak kumpul bareng lagi?” buka Abdillah.
“Alaahh..
Lu cuma mau pamer double date doang ya disini?” balas Ade.
“Yee
biasa aja dong bapak, jangan baper. Hehe” Ika menyambar.
“Gini,
Ka. Cuma gue yang masih jomblo disini. Emang dasar ye lu padaan.” Kata Ade.
“Hahahaha...”
sontak mereka berempat tertawa melihat ekspresi Ade.
“Oh
iya, ngomong-ngomong. Kok kumpul disini? Lumayan jauh dari rumah gue sekarang.”
kata Ade.
“Sebentar.”
Dillah memotong pembicaraan dan kemudian memanggil pelayan. Dillah terlihat
membisikkan sesuatu kepada si pelayan itu dan dibalas dengan anggukkan si
pelayan.
“Nggak,
De. Gini. Disini tuh enak aja rasanya. Oh iya, De. Gimana kerjaan?” lanjut
Dillah.
“Seperti
biasa, Dil. Lumayan sibuk. Ada proyek baru.” balas Ade.
Ketika
mereka asyik mengobrol, tiba-tiba seorang wanita cantik, berambut hitam sebahu,
datang menghampiri meja mereka berlima. Wajah yang ternyata tidak asing bagi
mereka.
“Selamat
siang, bapak insinyur. Ada yang bisa dibantu?” suara ini sangat tidak asing
bagiku, pikir Ade. Ade langsung menoleh ke belakang, dan terang saja, seperti mimpi
yang menjadi kenyataan. Setelah kurang lebih 5 tahun berpisah tanpa adanya
kabar. Ade kembali terdiam sembari sedikit mengingat-ingat siapa gerangan.
Tidak lama kemudian, Ade pun tersadar...
“Kemilau...”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar