Siang ini panas sekali,
setelah hampir 5 jam lamanya ku bergelut dengan angka-angka. Matematika,
Fisika, Kimia. Sehari pun tidak pernah kulepaskan pensil dari tanganku ini.
Seakan cuaca yang panas ini turut menambah panas otakku ini. Huuuhhh...
akhirnya kurebahkan tubuh ini di DPR, Di Bawah Pohon Rindang, yang ada di depan
kelasku persis.
Tempat ini merupakan tempat favorit teman sekelas untuk
bersantai, melepas penat, ataupun ketika dihukum tidak boleh masuk kelas karena
terlambat masuk. Seperti oase di padang pasir, pohon mangga yang rindang ini,
selalu menjadi tempat yang pas untuk melamun. Ah... aku melamun lagi.
“Heh! Ngelamun aja nih. Haha.” Ida, teman sekelasku
mengacaukan lamunanku.
“Masya Allah! Aku kaget, Da. Kamu apa-apaan sih.” Jawabku
kaget.
“Hehe. Biasa aja kali, ngelamun mulu sih kamu. Ngelamunin
siapa sih? Ngelamunin cewek ya?”
Ida ini memang sukanya menggangguku saja. Di kelas di
luar sama saja. Dia selalu minta diperhatiin.
“Ngelamunin masa depan.” Jawabku singkat.
“Ahh serius amat sih kamunya.” Kata Ida sambil
memanyunkan bibirnya.
“Jelek kamu, alay.” Balasku.
“Ihhhh!!! Kamu mah...” Kata Ida sambil mencubitku.
Walaupun Ida memang ngeselin, tapi Ida ini orangnya
cantik, menurutku. Kulitnya yang putih, rambut hitam sebahu yang tergerai
lurus, dan badannya juga menurutku ‘atletis’ untuk cewek seumuran dia. Dia juga
aktif di ekskul jurnalis di sekolahku sebagai ketua redaktur majalah sekolahku.
“Lihat Reno, gak? Aku mau makan nih. Ikut yuk?” Ida mengajakku
ke kantin dengan Reno, teman semejaku.
“Nggak deh, Da. Kamu aja sana sama Reno. Ada tuh di DPR
sana.” Jawabku sambil menunjuk ke arah DPR depan ruang guru.
***
Setelah Ida pergi, kulanjutkan kembali lamunanku yang
sempat terhenti tadi. Sebenarnya daritadi aku melamunkan si Ida ini. Sebenarnya
aku suka sama dia sejak kelas 10. Aku mulai menyukainya ketika dia sebagai
perwakilan murid baru berorasi ketika MOS. Aku kagum dengan parasnya dan juga
kelihaiannya berbicara di depan umum. Dia sangat mudah diajak bercanda, tapi
ketika dia serius, susah untuk diajak kompromi.
Pada saat itu aku berpikir untuk menembaknya, tetapi dia
ternyata sudah punya pacar, sekarang sudah jadi mantannya, sih. Namanya Andi,
kakak kelasnya. Tapi ketika bersama Andi, sepertinya Ida selalu mendapat
perlakuan keras. Kakak kelasku ini memang jagoan. Perokok, suka nongkrong,
tidak jarang si Ida selalu diajaknya untuk dugem di kawasan ibu kota. Aku
selalu merasa kasihan dengannya. Tetapi ketika Andi lulus, kami masih kelas 2
SMA, Ida putus dengan Andi. Dan sampai kelas 3 kini, Ida masih belum ada
gandengan.
“Kesempatan bagus.” Pikirku.
***
Pagi itu aku datang terlambat, dengan tergesa-gesa ku
memacu motorku ke sekolah. Apadaya gerbang langsung ditutup. Dengan segenap
kemampuanku melobi bapak satpam tapi bapak satpam dengan tegasnya bilang,
“Jam 06.45 gerbang ditutup! Jangan pada protes!”
Sial, kupikir. Apesnya diriku ini. Tapi tetapi saja,
menggerutu tidak akan membuatku masuk ke dalam sekolah itu. Akhirnya ku duduk
sebentar di warung nasi uduk di seberang sekolah. Sembari menunggu pesanan nasi
uduk kulihat jalanan depan sekolah, dari jauh kulihat anak perempuan yang
kurasa tidak asing, dengan seragam putih abu-abunya, tas pinggang biru.
“Ida,” gumamku.
“Ngapain Ida gak sekolah? Nunggu siapa dia di depan
sekolahan? Perasaan tadi gak liat deh.” Gumamku dalam hati.
Kemudian aku coba untuk mendatangi si Ida, tapi
tiba-tiba,
“Mas, mau kemana? Ini nasi uduknya.” Teriak ibu penjual
nasi uduk.
“Oh iya, bu. Lupa” aku kembali duduk sambil makan nasi
uduk. Kuurungkan sebentar niatku untuk mencari tahu. Sembari makan aku melihat
Ida dari jauh dan bertanya-tanya ada apa gerangan. Ah, tunggu aku selesai makan
dulu.
Sampai ku selesai makan, Ida masih saja menunggu
seseorang. Sambil melihat jam, untuk apa Ida tidak ke sekolah pagi ini. 10
menit kemudian, ada mobil Alphard hitam berhenti di depannya. Aku tidak bisa
melihat apapun karena mobil yang besar. Lalu, mobil itu pergi. Aku langsung
bangkit dan ingin mengejar, lalu tiba-tiba,
“Woy, tong! Bayar dulu! Main pergi aja.”
Sialan.
***
Sudah seminggu berlalu, sikap Ida berubah sejak waktu itu.
Dia menjadi lebih pendiam, selalu di kelas, dan tidak biasanya menggangguku
dengan suaranya yang seperti speaker meja piket.
“No, si Ida kayanya ada yang aneh nih.” Kataku kepada
Reno.
“Iya, Yan. Gak biasanya tuh anak anteng. Godain
ah.” Reno langsung menuju ke meja si Ida.
“Da, kantin yuk? Sini gue jajanin haha.” Reno mulai
menggoda Ida. Si Ida menutup kupingnya seperti tidak mau siapapun bicara
dengannya hari ini. Si Reno menggaruk-garuk kepalanya tanda bingung.
“Gak tau deh.” Reno langsung keluar pergi ke kantin.
Aku semakin penasaran, lalu aku coba untuk duduk di
smpingnya untuk bertanya.
“Da, kamu kenapa?” tanyaku. Tiba-tiba Ida langsung
bangkit ke luar kelas. Apa dia marah kepadaku? Aku semakin penasaran.
***
Bel pulang sekolah berbunyi, waktunya pulang, ya iyalah.
Ida dengan buru-buru langsung pergi keluar kelas seperti menghindariku. Tapi tidak kukejar. Dengan
perlahan kuikuti dia sampai ke luar gerbang. Beruntung motorku ada di sebelah
luar, bisa langsung berangkat. Benar saja, ada mobil Alphard hitam yag sudah
menunggu di depan gerbang, dan ku tahu itu bukan mobilnya. Karena dia memang
tidak punya mobil. Dia langsung masuk ke dalam mobil dan mobil langsung jalan.
Tanpa babibu lagi, aku mengikuti mobil itu dari belakang. Kupastikan agar tidak
terlihat dengan si pegemudinya.
Cukup jauh juga kuikuti mobil itu, ternyata berhenti di
suatu hotel di daerah planet.
“Bangsat! Masuk hotel lagi.” Maki diriku dalam hati.
Pasti tidak bisa masuk sembarangan. Masa ikutan check-in sih? Pikirku.
Kelamaan mikir dan akhirnya aku nekat masuk saja. Ketika di resepsionis, aku
dicegat beberapa pertanyaan standar. Ku hanya bilang ”mau nyamperin temen barusan”.
Anehnya,
alasanku diterima dan aku langsung berlari ke lift. Tapi bodohnya aku, aku
tidak tahu arah tujuan. Aku mesti kemana saja tidak tahu. Aku kembali ke
resepsionis dan bertanya siapa yang check-in barusan. Dan ternyata atas
nama Bapak Tiyo kamar 342. Langsung saja ku ke kamar yang dituju. Perasaanku
yang berdebar seperti mau menggerebek tersangka saja sudah tidak karuan. Aku
cepat-cepat ingin tahu apa yang terjadi.
Ketika
ku keluar dari pintu lift, belok kanan, kutemukan kamar 342. Lalu, ku mulai
bingung, apa yang harus kulakukan. Aku sudah berada di depan pintu ini. Dan
untung saja sepi, aku coba intip dari bawah celah pintu. Benar terlihat ada
sepasang orang tua dan anak dengan seragam pramuka, sama seperti seragamku.
“Wah,
gak bisa dibiarin nih.” Langsung saja kudobrak pintu itu. Brraakk!!! Pintu pun
terbuka dengan suara jeritan yang tidak asing bagiku. Dan apa yang kulihat ini?
Ida dengan laki-laki dengan usia sekitar 40-an tahun di dalam satu ranjang?
Kulihat baju Ida sudah sedikit berantakan. Ida seperti menutup bagian tubuhnya
yang sedikit terbuka itu. Sontak saja kupukul muka si pria brengsek itu hingga
jatuh tersungkur ke lantai.
“Cepat
rapikan bajumu itu. Ayo kita pulang.” Perintahku pada Ida agar segera
meninggalkan tempat ini selagi ku menghabisi si pria hidung belang ini.
Ida
langsung keluar dari kamar itu dan kemudian aku pun juga keluar dari kamar itu.
Kutemui Ida di luar hotel. Dia sedang duduk dengan muka tertunduk seakan tidak
kuasa menahan malunya.
“Kamu
kenapa sih, Da?” aku memulai pembicaraan.
“Kalo
ada sesuatu, cerita dong.” Lanjutku. Ida masih saja menutup mukanya. Sepertinya
dia masih belum mau bicara.
Hari
sudah mulai sore. Kulihat jam sudah menunjukkan jam 4. Sudah 2 jam kita disini
tanpa sepatah katapun terucap.
“Aku
kotor.” Tiba-tiba Ida berkata sesuatu.
“Hah?
Apaan?”
“Kamu
lihat kan? Aku kotor, Yan. Kotor.” Kata Ida sambil menangis. Kemudian kurangkul
tubuhnya dan kepalanya bersandar ke nahuku. Sambil menangis dia menceritakan
semuanya kepadaku. Ternyata dia adalah orang yang dikenalkan oleh temannya,
kemudian Ida selalu diajak jalan-jalan oleh si pria itu. Tetapi baru kali ini
dia mengajak Ida ke hotel. Karena Ida pikir rumah si pria itu di hotel.
“Sudah,
Da. Gapapa.” Aku mencoba menenangkan Ida.
“Tapi
kamu janji ya, kamu jangan kasih tau ini ke siapapun di sekolah.” Kata Ida
dengan mata berkaca-kaca. Aku tidak tega orang yang selama ini kusukai dikotori
oleh banjingan itu.
“Iya,
aku janji.” Aku menyanggupinya. Lalu kuseka air matanya dan mengajaknya pulang.
“Gak
mau. Kita jalan-jalan dulu ya?” kata Ida. Ya sudah, kuajak dia ke alun-alun
kota. Di bawah gemerlap malam alun-alun kota itu, aku menyatakan perasaanku
kepada Ida.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar