Pada suatu hari, hiduplah seekor burung kecil. Dia
tinggal di sebuah sangkar milik seorang tukang kayu yang sudah tua. Sang
majikan hidup sebatang kara di sebuah rumah kayu yang terletak di dalam hutan.
Hanya ada si burung kecil yang menemani. Sang tukang kayu tua itu menyayangi
burung kecil itu seperti anaknya sendiri. Tiada kurang satu apapun si burung
kecil itu, namun ia merasa tidak bahagia hidup di sangkar.
“Aku ingin hidup bebas.” kata si burung kecil.
“Aku ingin berterbangan di alam bebas. Menikmati udara di
luar sana. Bermain bersama teman-temanku. Aku tidak ingin berlama-lama
terkurung disini.” lanjut si burung kecil.
Sepanjang hari, si burung kecil selalu memikirkan
bagaimana caranya agar dia bisa keluar dari sangkarnya. Di sisi lain, dia juga
tidak tega melihat sang tukang kayu jika dia tinggalkan. Tidak terbayangkan apa
yang terjadi jika dia pergi meninggalkan sang tukang kayu. Si burung kecil pun
dilema.
Pada suatu ketika, ketika si burung kecil sedang
merenungi rencana kaburnya, datang si elang hinggap di sarang burung kecil. Si
burung kecil kaget bukan main. Dia takut elang akan memangsanya.
“Jangan takut.” kata elang.
“Aku sengaja datang kemari karena melihatmu selalu
termenung. Ada apa kawan kecil?” tanya si elang.
“Aku
bingung...” jawab si burung kecil dengan penuh was-was. Takut terjadi apa-apa
dengan dirinya.
“Tidak perlu takut, kawan. Aku kesini bukan untuk
memangsa engkau. Aku disini mempunyai maksud baik. Ingin menolong sesama bangsa
burung.” tegas si elang.
“Ehhmmm... Aku ingin keluar dari sangkar ini.” kata si
burung kecil.
“Kenapa?” si elang terheran.
“Kenapa kamu mau keluar dari sangkar ini? Apakah
majikanmu telah berbuat jahat kepadamu?” lanjut si elang.
“Bukan seperti itu. Majikanku tidak berbuat jahat
kepadaku, justru sebaliknya. Aku sudah seperti anak baginya. Ketika dia
kelelahan setelah bekerja, dia selalu bermain-main denganku. Tetapi, perasaanku
tidak bisa dibohongi. Karena tempatku bukan disini, tetapi di luar sana. Alam
yang membentang luas adalah rumahku. Aku ingin berkumpul dengan teman-temanku
sesama burung, terbang, dan bernyanyi bersama.” ungkap si burung kecil.
Si elang berpikir sejenak.
“Hmmm... Lumayan rumit juga ya masalahmu.” ujar si elang.
“Aku akan memikirkan bagaimana caranya agar kamu bisa
keluar dari sini. Tetapi, pikirkan kembali ketika kamu memutuskan untuk keluar
dari sini, oke? Karena tidak ada jalan untuk kembali.” ungkap si elang. Lalu si
elang pergi meninggalkan si burung kecil dan si burung kecil ini terus
memikirkan apa yang telah dikatakan oleh elang.
Suatu ketika, si elang kembali ke sangkar si burung
kecil. Si burung kecil masih dalam keadaan terlelap.
“Hai kawan. Bangun.” kata si elang.
“Hmmm... Ada apa elang?” jawab si burung kecil.
“Aku tahu bagaimana caranya agar kamu bisa keluar dari
sini.” ungkap si elang.
“Benarkah?” kata si burung kecil
“Betul. Apakah kamu sudah bulat dengan keputusanmu ini?
Aku tidak ingin kamu menyesalinya di kemudian hari?” tanya si elang meyakinkan
si burung kecil
Dengan mantap, si burung kecil pun menjawab, “Aku yakin.”
Si elang pun pergi meninggalkan sangkar burung kecil dan
kembali pada keesokan harinya. Si burung kecil masih tidak mengetahui apa
rencana si elang ini.
Pada keesokan harinya, dari kejauhan terdengar suara
pekikan si elang. Si burung kecil dibuat kaget olehnya. Mungkin ini bagian dari
rencananya, pikir si burung kecil. Kemudian, si burung kecil pun bereaksi
dengan mengeluarkan cuitannya yang tidak keras. Lalu si elang hinggap di
sangkar si burung kecil, lalu berkata:
“Aku akan membuat kekacauan di sini.”
Lalu suara ribut terdengar di rumah sang tukang kayu.
Sang tukang kayu yang berada di hutan pun curiga. Lalu segera cepat
meninggalkan pekerjaannya untuk melihat apa yang terjadi di sana.
Sang tukang kayu pun terkejut melihat burung elang hitam
yang besar sedang hinggap di sangkar burung kecil yang dia sayangi itu. Burung
elang itu mencoba memakan si burung kecil itu. Apadaya, ketika sang tukang kayu
ingin mengambil senapan, si elang itu sudah pergi membawa si burung kecil.
Si elang kemudian membawa si burung kecil ke dalam hutan.
Lalu masuk ke sarangnya. Diturunkannya si burung kecil itu ketika sudah sampai
di sarangnya yang terletak di atas sebuah pohon yang tinggi besar dan rimbun.
“Inilah rumahku.” kata si elang.
“Istriku dan anak-anakku sedang pergi berjalan-jalan.
Nikmatilah. Anggap saja seperti rumahmu sendiri.” Si burung kecil diperlakukan
layaknya tamu di sarang si elang.
“Terima kasih, elang. Kamu telah membantuku. Jujur saja,
aku masih dilema atas apa yang aku putuskan. Namun, aku tidak ingin
berlama-lama terkurung. Aku ingin hidup bebas.” ucap si burung kecil berterima
kasih pada si elang.
“Tidak masalah, kawan. Jika kau tidak punya tempat untuk
pulang. Kemarilah. Pintu kami selalu terbuka untukmu.” ungkap si elang.
Tidak lama kemudian, istri si elang dan juga anak-anaknya
kembali ke sarang. Si elang memperkenalkan si burung kecil kepada istri dan
anak-anaknya. Dan kemudia si burung kecil pun hidup bahagia bersama keluarga
elang yang bersahaja dan menyukai kebebasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar