Rabu, 30 September 2015

Burung Kecil dan Elang



            Pada suatu hari, hiduplah seekor burung kecil. Dia tinggal di sebuah sangkar milik seorang tukang kayu yang sudah tua. Sang majikan hidup sebatang kara di sebuah rumah kayu yang terletak di dalam hutan. Hanya ada si burung kecil yang menemani. Sang tukang kayu tua itu menyayangi burung kecil itu seperti anaknya sendiri. Tiada kurang satu apapun si burung kecil itu, namun ia merasa tidak bahagia hidup di sangkar.

            “Aku ingin hidup bebas.” kata si burung kecil.
            “Aku ingin berterbangan di alam bebas. Menikmati udara di luar sana. Bermain bersama teman-temanku. Aku tidak ingin berlama-lama terkurung disini.” lanjut si burung kecil.
            Sepanjang hari, si burung kecil selalu memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa keluar dari sangkarnya. Di sisi lain, dia juga tidak tega melihat sang tukang kayu jika dia tinggalkan. Tidak terbayangkan apa yang terjadi jika dia pergi meninggalkan sang tukang kayu. Si burung kecil pun dilema.
            Pada suatu ketika, ketika si burung kecil sedang merenungi rencana kaburnya, datang si elang hinggap di sarang burung kecil. Si burung kecil kaget bukan main. Dia takut elang akan memangsanya.
            “Jangan takut.” kata elang.
            “Aku sengaja datang kemari karena melihatmu selalu termenung. Ada apa kawan kecil?” tanya si elang.
            “Aku bingung...” jawab si burung kecil dengan penuh was-was. Takut terjadi apa-apa dengan dirinya.
            “Tidak perlu takut, kawan. Aku kesini bukan untuk memangsa engkau. Aku disini mempunyai maksud baik. Ingin menolong sesama bangsa burung.” tegas si elang.
            “Ehhmmm... Aku ingin keluar dari sangkar ini.” kata si burung kecil.
            “Kenapa?” si elang terheran.
            “Kenapa kamu mau keluar dari sangkar ini? Apakah majikanmu telah berbuat jahat kepadamu?” lanjut si elang.
            “Bukan seperti itu. Majikanku tidak berbuat jahat kepadaku, justru sebaliknya. Aku sudah seperti anak baginya. Ketika dia kelelahan setelah bekerja, dia selalu bermain-main denganku. Tetapi, perasaanku tidak bisa dibohongi. Karena tempatku bukan disini, tetapi di luar sana. Alam yang membentang luas adalah rumahku. Aku ingin berkumpul dengan teman-temanku sesama burung, terbang, dan bernyanyi bersama.” ungkap si burung kecil.
            Si elang berpikir sejenak.
            “Hmmm... Lumayan rumit juga ya masalahmu.” ujar si elang.
            “Aku akan memikirkan bagaimana caranya agar kamu bisa keluar dari sini. Tetapi, pikirkan kembali ketika kamu memutuskan untuk keluar dari sini, oke? Karena tidak ada jalan untuk kembali.” ungkap si elang. Lalu si elang pergi meninggalkan si burung kecil dan si burung kecil ini terus memikirkan apa yang telah dikatakan oleh elang.
            Suatu ketika, si elang kembali ke sangkar si burung kecil. Si burung kecil masih dalam keadaan terlelap.
            “Hai kawan. Bangun.” kata si elang.
            “Hmmm... Ada apa elang?” jawab si burung kecil.
            “Aku tahu bagaimana caranya agar kamu bisa keluar dari sini.” ungkap si elang.
            “Benarkah?” kata si burung kecil
            “Betul. Apakah kamu sudah bulat dengan keputusanmu ini? Aku tidak ingin kamu menyesalinya di kemudian hari?” tanya si elang meyakinkan si burung kecil
            Dengan mantap, si burung kecil pun menjawab, “Aku yakin.”
            Si elang pun pergi meninggalkan sangkar burung kecil dan kembali pada keesokan harinya. Si burung kecil masih tidak mengetahui apa rencana si elang ini.
            Pada keesokan harinya, dari kejauhan terdengar suara pekikan si elang. Si burung kecil dibuat kaget olehnya. Mungkin ini bagian dari rencananya, pikir si burung kecil. Kemudian, si burung kecil pun bereaksi dengan mengeluarkan cuitannya yang tidak keras. Lalu si elang hinggap di sangkar si burung kecil, lalu berkata:
            “Aku akan membuat kekacauan di sini.”
            Lalu suara ribut terdengar di rumah sang tukang kayu. Sang tukang kayu yang berada di hutan pun curiga. Lalu segera cepat meninggalkan pekerjaannya untuk melihat apa yang terjadi di sana.
            Sang tukang kayu pun terkejut melihat burung elang hitam yang besar sedang hinggap di sangkar burung kecil yang dia sayangi itu. Burung elang itu mencoba memakan si burung kecil itu. Apadaya, ketika sang tukang kayu ingin mengambil senapan, si elang itu sudah pergi membawa si burung kecil.
            Si elang kemudian membawa si burung kecil ke dalam hutan. Lalu masuk ke sarangnya. Diturunkannya si burung kecil itu ketika sudah sampai di sarangnya yang terletak di atas sebuah pohon yang tinggi besar dan rimbun.
            “Inilah rumahku.” kata si elang.
            “Istriku dan anak-anakku sedang pergi berjalan-jalan. Nikmatilah. Anggap saja seperti rumahmu sendiri.” Si burung kecil diperlakukan layaknya tamu di sarang si elang.
            “Terima kasih, elang. Kamu telah membantuku. Jujur saja, aku masih dilema atas apa yang aku putuskan. Namun, aku tidak ingin berlama-lama terkurung. Aku ingin hidup bebas.” ucap si burung kecil berterima kasih pada si elang.
            “Tidak masalah, kawan. Jika kau tidak punya tempat untuk pulang. Kemarilah. Pintu kami selalu terbuka untukmu.” ungkap si elang.
            Tidak lama kemudian, istri si elang dan juga anak-anaknya kembali ke sarang. Si elang memperkenalkan si burung kecil kepada istri dan anak-anaknya. Dan kemudia si burung kecil pun hidup bahagia bersama keluarga elang yang bersahaja dan menyukai kebebasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar