Semester satu telah usai.
Setelah berjibaku dengan sulitnya ujian semester, akhirnya bisa bernafas dengan
lega. Fiuuhhh... Radit menghela nafas panjangnya.
“Susah bangeett...” kata Radit.
Suasana kelas yang seperti biasa, ramai, panas, namun
nyaman dilihat. Karena bersih. Siapapun yang ada di kelas Radit, pasti akan
betah untuk terus di kelas. Ya, walaupun kantin tetap saja menggoda.
Dari
jendela kelas, terlihat Radit masih melamun. Apa yang ia lamunkan? Ya siapa
lagi. Cewek kelas sebelah itu seakan telah menyita pikiran Radit hingga tidak
bisa melupakannya sedetikpun. Di saat jam kosong seperti ini, ingin rasanya
waktu dihabiskan berdua dengan Ira.
“Duh,
Ira... Kapan ya kamu bisa jadi milikku?” Radit bergumam dalam hati.
“Apa
kamu sudah punya pacar?”
“Apa
aku bukan tipe kamu?”
“Apa
kamu tidak suka dengan aku?”
“AAAHHHH!!!
Pusing aku memikirkannya!” ucap Radit dalam hati sambil menjambak rambutnya
sendiri. Sudah 17 tahun, tapi masih gak bisa mengungkapkan perasaan
sendiri ke Ira.
Tetap
saja, walau banyak yang bilang Radit ganteng, cuma dia kurang pede soal
cewek. Kadang, ceweklah yang selalu duluan. Contoh saja Nina, adik kelas Radit
yang bisa-bisanya datang ke kelas dan teriak, “AKU SUKA KAK RADIT!!!”. Mungkin
itulah yang selama ini Radit khawatirkan. Apa Ira mengetahuinya? Gila aja,
satu sekolahan tau itu.
“DIT!
Futsal kita.” Bobby teriak dari depan pintu kelas.
Radit
masih termenung.
“WOY!
Kita tanding habis ini. Siap-siap.” Bobby tiba-tiba sudah dibelakang Radit.
“Astajim.
Iya iya.” dengan tersungut Radit mulai bersiap untuk pertandingan futsal classmeeting.
Seragam
biru donker kebanggaan kelas Radit kenakan. Terlihat gagah dengan sepatu hitam
Nike Hypervenom-nya. Radit selain ganteng ternyata juga jago bermain futsal.
Tapi dia tidak ikut ekskul futsal.
***
Pertandingan
sebentar lagi akan segera dimulai. Pertandingan kali ini antara XI MIA 1
melawan XI MIA 5. Radit didampingi Reza, sobat karibnya sudah siap di tengah
lapangan.
“Dit,
lihat kesana deh.” Reza menunjuk dengan matanya ke arah belakang Radit.
Radit
menoleh ke belakang. Tiba-tiba...
“Ira...”
Radit terkejut di belakangnya, Ira, sedang menyaksikan dirinya. Sontak Ira
melambaikan tangannya sambil melempar senyum khasnya ke arah Radit. Radit kali
ini dibuat salah tingkah.
“Dit,
konsen lu. Awas aja ampe lu bengong liatin Ira.” Kata Reza sambil
menampar pelan pipi Radit.
“Priiitttt...”
kick off babak pertama dimulai.
Radit
langsung bermain sambil tersenyum. Tersenyum karena ada Ira melihat dirinya
bermain. Seakan di dunia yang luas ini, hanya Ira dan Radit yang ada di
dalamnya. Ingin rasanya menunjukkan kepada Ira betapa hebatnya dirinya. Bola
terus disambarnya, dipassing kepada lawannya, hingga membuat Ira geleng-geleng
melihat kehebatan Radit.
Tapi
Radit tetap saja Radit. Dia tidak pandai sombong kelihatannya. Dan hal itu yang
membuat Ira semakin takjub. Tampangnya yang natural, tidak dibuat-buat.
Seakan-akan meyakinkan jika Radit tidak suka berakting. Ketika Radit kecewa,
Radit marah, tetap kepala dingin. Ketika senang, dia akan berteriak sekeras
mungkin.
Momen
krusial pun tiba. Radit mendapat umpan terobosan dari Adam yang kemudian
diselesaikan dengan manis oleh Radit.
“GOOOLLLL!!!”
kedudukan 1-0 untuk XI MIA 1.
***
Hingga
peluit panjang. Hanya gol yang diciptakan oleh Radit yang membawa kelasnya
memenangkan pertandingan hari ini. Senangnya bukan main hati Radit, mungkin
hati Ira juga. Setelah pertandingan, Radit pun beristirahat di bangku taman
sekolah yang tidak jauh dari lapangan.
“Ciee...
Selamat ya?” Ira datang dengan membawa handuk kecil dan air minum.
“Ehh..
Aduh.. Iya.. Makasih yaa..” jawab Radit malu-malu.
“Jangan
kaku gitu dong. Hehe”
“ADUUHHH
KAMU NGAPAIN KETAWA?? BISA MATI BERDIRI AKU.” Gertak Radit dalam hati.
Ira
hari ini manis sekali. Tidak seperti Radit lihat sebelumnya. Wajahnya lebih
bersinar, ditambah pancaran sinar matahari yang tidak terlalu menyilaukan
membuah hati Radit tidak karuan. Radit menutup wajahnya dengan handuk.
“Kamu
kenapa Dit? Kamu capek?” kata Ira khawatir.
“Ehh..
Ngg.. Nggak kok. Ngga apa-apa.Cuma keringetan aja ini.” Balas Radit.
“Ohh
gitu, hehe.” Ira membalas dengan senyum manisnya itu. Duhh.
Tanpa
sadar ternyata mereka hanya berduaan saja di taman sekolah. Tidak ada
siapa-siapa disana. Tergerak hati Radit untuk melakukan apa yang mestinya ia
perbuat satu semester yang lalu. Menyatakan perasaan kepada Ira.
Lagi,
hati Radit langsung tidak karuan. Sedangkan Ira sendiri hanya tersipu malu
karena canggung dekat dengan orang setampan Radit. Sepertinya mereka berdua
saling suka. Tapi apadaya, malu memisahkan mereka.
“Ayo
dong. Gue harus berani.” Bisik Radit dalam hati.
“Kalo
nggak. Akan jadi penyesalan gw di kemudian hari.” Radit terus mengumpulkan
keberaniannya untuk berbicara menyatakan perasaannya kepada Ira.
“Bodo.
Diterima apa nggak. Gue bakal ngomong.” Radit mantap dengan pilihannya
15
menit berlalu
“Eghhmm...
Ira?” Radit membuka pembicaraan.
“Iya
Radit?” Ira membalas plus senyum manisnya.
“MATI
GUE MATI!!!”
“EH,
GUE GABOLEH MUNDUR.” Radit makin mantap.
“Anu..
Aku mau ngaku.” Kata Radit.
“Apa
Dit?” balas Ira.
“Itu...
Kamu cantik Ira. Aku suka sama kamu.” jantung Radit rasanya hampir copot saat
mengucapkannya.
“Radit...”
balas Ira sedikit bingung.
“Sebenernya...”
lanjut Ira.
Radit
mau pingsan. Radit kemudian lari meninggalkan Ira. Mungkin takut mendengar
jawaban dari Ira. Klasik banget, kata Reza.
***
Setelah
kejadian itu, Radit hanya sanggup melihat Ira dari kejauhan saja. Paling dekat
hanya di koridor depan kelas saja. Jika lebih dekat dari itu, muka Radit
memerah lalu mengeluarkan peluh dan kemudian, kabur.
“Sialan,
gue pecundang bangett!!!” gerutu Radit dalam hati.
Selalu
seperti itu, hingga tidak terasa akhir semester telah tiba. Semua siswa bersiap
untuk ujian kenaikan kelas.
***
BERSAMBUNG...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar