Sabtu, 08 Agustus 2015

Eps. 3: Radit dan Ira

Semester satu telah usai. Setelah berjibaku dengan sulitnya ujian semester, akhirnya bisa bernafas dengan lega. Fiuuhhh... Radit menghela nafas panjangnya.
            “Susah bangeett...” kata Radit.
            Suasana kelas yang seperti biasa, ramai, panas, namun nyaman dilihat. Karena bersih. Siapapun yang ada di kelas Radit, pasti akan betah untuk terus di kelas. Ya, walaupun kantin tetap saja menggoda.
Dari jendela kelas, terlihat Radit masih melamun. Apa yang ia lamunkan? Ya siapa lagi. Cewek kelas sebelah itu seakan telah menyita pikiran Radit hingga tidak bisa melupakannya sedetikpun. Di saat jam kosong seperti ini, ingin rasanya waktu dihabiskan berdua dengan Ira.
Duh, Ira... Kapan ya kamu bisa jadi milikku?” Radit bergumam dalam hati.
Apa kamu sudah punya pacar?”
Apa aku bukan tipe kamu?”
“Apa kamu tidak suka dengan aku?”
“AAAHHHH!!! Pusing aku memikirkannya!” ucap Radit dalam hati sambil menjambak rambutnya sendiri. Sudah 17 tahun, tapi masih gak bisa mengungkapkan perasaan sendiri ke Ira.
Tetap saja, walau banyak yang bilang Radit ganteng, cuma dia kurang pede soal cewek. Kadang, ceweklah yang selalu duluan. Contoh saja Nina, adik kelas Radit yang bisa-bisanya datang ke kelas dan teriak, “AKU SUKA KAK RADIT!!!”. Mungkin itulah yang selama ini Radit khawatirkan. Apa Ira mengetahuinya? Gila aja, satu sekolahan tau itu.
“DIT! Futsal kita.” Bobby teriak dari depan pintu kelas.
Radit masih termenung.
“WOY! Kita tanding habis ini. Siap-siap.” Bobby tiba-tiba sudah dibelakang Radit.
Astajim. Iya iya.” dengan tersungut Radit mulai bersiap untuk pertandingan futsal classmeeting.
Seragam biru donker kebanggaan kelas Radit kenakan. Terlihat gagah dengan sepatu hitam Nike Hypervenom-nya. Radit selain ganteng ternyata juga jago bermain futsal. Tapi dia tidak ikut ekskul futsal.
***
Pertandingan sebentar lagi akan segera dimulai. Pertandingan kali ini antara XI MIA 1 melawan XI MIA 5. Radit didampingi Reza, sobat karibnya sudah siap di tengah lapangan.
“Dit, lihat kesana deh.” Reza menunjuk dengan matanya ke arah belakang Radit.
Radit menoleh ke belakang. Tiba-tiba...
Ira...” Radit terkejut di belakangnya, Ira, sedang menyaksikan dirinya. Sontak Ira melambaikan tangannya sambil melempar senyum khasnya ke arah Radit. Radit kali ini dibuat salah tingkah.
“Dit, konsen lu. Awas aja ampe lu bengong liatin Ira.” Kata Reza sambil menampar pelan pipi Radit.
Priiitttt...” kick off babak pertama dimulai.
Radit langsung bermain sambil tersenyum. Tersenyum karena ada Ira melihat dirinya bermain. Seakan di dunia yang luas ini, hanya Ira dan Radit yang ada di dalamnya. Ingin rasanya menunjukkan kepada Ira betapa hebatnya dirinya. Bola terus disambarnya, dipassing kepada lawannya, hingga membuat Ira geleng-geleng melihat kehebatan Radit.
Tapi Radit tetap saja Radit. Dia tidak pandai sombong kelihatannya. Dan hal itu yang membuat Ira semakin takjub. Tampangnya yang natural, tidak dibuat-buat. Seakan-akan meyakinkan jika Radit tidak suka berakting. Ketika Radit kecewa, Radit marah, tetap kepala dingin. Ketika senang, dia akan berteriak sekeras mungkin.
Momen krusial pun tiba. Radit mendapat umpan terobosan dari Adam yang kemudian diselesaikan dengan manis oleh Radit.
“GOOOLLLL!!!” kedudukan 1-0 untuk XI MIA 1.
***
Hingga peluit panjang. Hanya gol yang diciptakan oleh Radit yang membawa kelasnya memenangkan pertandingan hari ini. Senangnya bukan main hati Radit, mungkin hati Ira juga. Setelah pertandingan, Radit pun beristirahat di bangku taman sekolah yang tidak jauh dari lapangan.
“Ciee... Selamat ya?” Ira datang dengan membawa handuk kecil dan air minum.
“Ehh.. Aduh.. Iya.. Makasih yaa..” jawab Radit malu-malu.
“Jangan kaku gitu dong. Hehe”
ADUUHHH KAMU NGAPAIN KETAWA?? BISA MATI BERDIRI AKU.” Gertak Radit dalam hati.
Ira hari ini manis sekali. Tidak seperti Radit lihat sebelumnya. Wajahnya lebih bersinar, ditambah pancaran sinar matahari yang tidak terlalu menyilaukan membuah hati Radit tidak karuan. Radit menutup wajahnya dengan handuk.
“Kamu kenapa Dit? Kamu capek?” kata Ira khawatir.
“Ehh.. Ngg.. Nggak kok. Ngga apa-apa.Cuma keringetan aja ini.” Balas Radit.
“Ohh gitu, hehe.” Ira membalas dengan senyum manisnya itu. Duhh.
Tanpa sadar ternyata mereka hanya berduaan saja di taman sekolah. Tidak ada siapa-siapa disana. Tergerak hati Radit untuk melakukan apa yang mestinya ia perbuat satu semester yang lalu. Menyatakan perasaan kepada Ira.
Lagi, hati Radit langsung tidak karuan. Sedangkan Ira sendiri hanya tersipu malu karena canggung dekat dengan orang setampan Radit. Sepertinya mereka berdua saling suka. Tapi apadaya, malu memisahkan mereka.
Ayo dong. Gue harus berani.” Bisik Radit dalam hati.
Kalo nggak. Akan jadi penyesalan gw di kemudian hari.” Radit terus mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara menyatakan perasaannya kepada Ira.
Bodo. Diterima apa nggak. Gue bakal ngomong.” Radit mantap dengan pilihannya
15 menit berlalu
“Eghhmm... Ira?” Radit membuka pembicaraan.
“Iya Radit?” Ira membalas plus senyum manisnya.
“MATI GUE MATI!!!
EH, GUE GABOLEH MUNDUR.” Radit makin mantap.
“Anu.. Aku mau ngaku.” Kata Radit.
“Apa Dit?” balas Ira.
“Itu... Kamu cantik Ira. Aku suka sama kamu.” jantung Radit rasanya hampir copot saat mengucapkannya.
“Radit...” balas Ira sedikit bingung.
“Sebenernya...” lanjut Ira.
Radit mau pingsan. Radit kemudian lari meninggalkan Ira. Mungkin takut mendengar jawaban dari Ira. Klasik banget, kata Reza.
***
Setelah kejadian itu, Radit hanya sanggup melihat Ira dari kejauhan saja. Paling dekat hanya di koridor depan kelas saja. Jika lebih dekat dari itu, muka Radit memerah lalu mengeluarkan peluh dan kemudian, kabur.
Sialan, gue pecundang bangett!!!” gerutu Radit dalam hati.
Selalu seperti itu, hingga tidak terasa akhir semester telah tiba. Semua siswa bersiap untuk ujian kenaikan kelas.
***

BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar