“Kriiing...
kriiingggg...krrriiinnnggg” jam weker menunjukkan pukul 5 pagi. Radit bangun
dengan rada suntuk. Maklum tadi sore dia baru sampai ke Jakarta. Mungkin
masih jetlag. Segarnya udara pagi di rumah barunya masih terasa. Hingga
Radit bangkit dari tempat tidurnya.
“Selamat pagi, pangeran tidur. Bagaimana tidurnya nyenyak
tidak?” celetuk Rafid, kakaknya.
“Shhh.. Ganggu aja pagi-pagi. Sholat Subuh, bukannya
ngeledek adeknya.” Balas Radit dengan sedikit kesal.
“Ya elah, gak usah serius juga kali. Gue udah
buatin sarapan buat lo. Mamah sama papah balik lagi ke Osaka. Kerjaan gak
bisa ditinggal. Jadi kita deh yang ditinggal.” Kata Rafid.
“Oh papah balik lagi? Kapan balik lagi kemari?”
“Entah, paling bulan depan. Lu doain aja, kata mamah biar
kerjaannya cepet selesai.”
“Oh, oke.” Pikir Radit.
Padahal Radit ingin mama dan papanya menemani dia di hari
pertama sekolah di Jakarta. Papa dan mama Radit memang sibuk sebagai seorang
diplomat. Radit memang tidak heran, tetapi ya, “sekali-kali kan bisa gak
sibuk-sibuk banget.” Kata Radit waktu masih kecil. Tapi, dia bukan bocah
lagi.
Dinginnya pagi makin terasa menusuk hingga rusuk. Sepagi
ini harus bangun, karena sekolah di Indonesia dimulai pukul 7 pagi. Radit masih
belum terbiasa dengan sekolah pagi. Karena sekolah di Jepang baru dimulai pukul
9. Jadi sepagi ini Radit harus mulai membereskan perlengkapan sekolahnya.
“Bete gak? Bangun jam segini?” kata Rafid sambil
merapikan dasinya.
“Bete sih. Ya mau gimana lagi. Gue pikir papah
udah bebas tugas. Gak taunya? PHP lah.” Timpal Radit.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6. Setelah mereka berdua
sarapan, Radit bergegas berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Jarak dari
rumah Radit ke sekolah memang tidak terlalu jauh. Tidak sejauh waktu di Osaka,
sampai harus naik densha.
“Dit, mau bareng gak? Mumpung gratis. Hehe.” Ajak
Rafid dari dalam mobilnya. Rafid sudah siap berangkat ke kantor.
“Makasih. Gue gak biasa naik kendaraan. Jalan
lebih enak. Sekalian mau menghirup udara segar.” Balas Radit.
“Ngeceng iya lu.” Celetuk Rafid.
“Kampret lu. Cari duit sana. Bukan cari
masalah.” Balas Radit sedikit sewot.
Suasana pagi di Jakarta sangat berbeda dari Osaka.
Biasanya banyak anak-anak sekolah yang berjalan kaki. Tapi, menurut penglihatan
Radit, mereka banyak berlalu lalang menggunakan motor.
“Merk Jepang semua.” Pikir Radit.
Tiga puluh menit Radit berjalan menuju sekolah barunya.
Cukup terkenal di Jakarta. Sekolah Negeri. Radit berpikir apakah orang-orang
disini mau berteman dengannya? Dari sumber yang banyak dia tahu, orang
Indonesia itu supel. Kamu ajak aja ngobrol. Senggol dikit aja badannya. Pasti
nanti jadi temen. Malah bisa jadi pacar. Begitu pikir Radit.
Jadi Radit langsung mencari kelasnya. Lari dengan
perasaan bingung, karena biasanya lari-lari di koridor tidak diperkenankan,
tetapi disini tidak diapa-apakan. “Kan beda”.
Akhirnya kelas yang dicari pun ketemu, tertulis “KELAS XI
MIA 1” di pojok atas kelas. Seperti yang dibilang ayahnya ketika mengurus
kepindahannya. Ketika masuk ke kelasnya, Radit sedikit bingung dan terkejut.
“Gak jauh beda. Sama-sama bersih dan gaduh.”
Gumamnya dalam hati.
Radit bingung mencari tempat duduk, hingga dia berdiri
mematung di depan kelas. Sontak teman-teman barunya di dalam kelas kebingungan.
“Siapa sih itu? Kayanya kebingungan deh.”
“Oh itu ya, anak baru.”
Bisikkan teman-temannya itu dibuyarkan oleh Bu Syifa,
wali kelas mereka.
“Sudah tenang! Assalamu’alaikum anak-anak.” Buka Bu
Syifa.
“Wa’alaikumsalam, Bu.” Teriak anak-anak.
“Hari ini kita kedatangan murid baru. Dia pindahan dari
jauh sekali. Nak, masuk sini.” Suara Bu Syifa membuyarkan lamunannya.
“Oh iya, Bu.” Langsung saja Radit berdiri dengan rada
bingung khas anak baru di depan mereka. Lalu Radit menulis namanya dengan huruf
Katakana “RADITTO SUHARUTO”. Terang saja teman-teman Radit garuk-garuk
kepala.
“Eh, maaf, Bu. Kebiasaan.” Kata Radit sambil cengar-cengir.
“Hahahahahahaha” reaksi Radit membuat seisi kelas
tertawa. Katanya mukanya gampang banget dibegoin.
“Radit Suharto. Saya dari Namba, Osaka, Jepang. Yoroshiku
onegaishimasu.” Radit memperkenalkan diri khas orang Jepang.
“Pagi, Radit!” sambut teman-temannya.
“Nah, Radit, kamu duduk di sana.” Bu Syifa menunjuk meja
paling belakang. Radit langsung duduk di kursinya, bukan di mejanya. Dan teman
sebangkunya adalah si Reza. Reza ini terkenal sebagai menusia super. Iya, super
males, super bandel, tapi dia super boy katanya. Cewek-cewek pada ngincer
dia. Ganteng, kaya Radit. Kalo Radit itu seperti ikemen.
“Nama gue Radit.” Radit membuka percakapan.
“Reza. Biasain ya tinggal disini.” Reza baik juga
ternyata.
Selanjutnya, mereka belajar hingga bel istirahat pertama
berbunyi. Lalu Reza mendadak jadi guide Radit selama istirahat. Dia
memberitahukan seisi sekolah ini, sampai tempat bolos favorit siswa disini.
“Tapi ada satu hal yang bakal bikin lu gak nyesel
sekolah disini.” Kata Reza.
“Apaan?” jawab Radit dengan penasaran.
“Tuh..” tunjuk Reza.
Ketika Radit memalingkan wajahnya ke arah yang ditunjuk
Reza, seketika Radit tidak ingin berpaling.
“Kireii...” gumam Radit dalam hati.
Memang, harta, tahta, dan wanita yang selalu membuat para
lelaki lupa. Begitupun Radit, dia amat terkagum-kagum melihat anak perempuan di
sekolahnya. Cantik, anggun dengan berkerudung, sejuk rasanya.
“Sejuk yah?” kata Radit. Tanpa sadar bel masuk pun
berbunyi. Sembari mereka kembali ke kelas, mereka berdua ngobrol tentang bayak
hal.
“Eh, Za, lihat deh.” Seketika pandangan Radit tertuju
kepada perempuan di kelas sebelah.
“Kok dia cantik sih, Za?” kata Radit.
“Gak tau lah. Tanya aja ama yang bikin.”
Kata Reza.
Perempuan itu memang cantik, berkerudung, dengan behel di
giginya menambah mnis paras wajahnya. Dia sangat menarik untuk dilihat oleh
semua lelaki.
“Oh, itu namanya Ira, Dit.” Jelas Reza.
“Kayaknya gue bakal butuh pertolongan lu nih.” Kata
Radit.
***
Keesokan harinya, ketika Radit baru tiba ke kelasnya. Dia
menyempatkan diri mengintip perempuan yang bernama Ira itu dari balik pintu
kelas. Dia hanya bisa beristighfar dalam hatinya.
“Jangan Cuma diliatin. Ntar dilalerin.” Celetuk
Boby, teman sekelas Radit.
“Bob, rese lu.” Balas Radit. Lalu dibalik itu
semua, Radit memikirkan caranya bagaimana bisa berkenalan dengan Ira, perempuan
cantik yang membuat cowok ikemen ini jadi gak mau kemana-mana.
“Nanti deh.” Pikir Radit dalam hati.
***
Bel istirahat berbunyi, Radit pergi ke kantin. Kali ini
sendiri, karena Reza katanya malas. Radit hanya membeli minuman dingin lalu
duduk di bangku kantin. Dari kejauhan Radit melihat Ira yang hanya duduk
sendiri sambil minum minumannya. Hati Radit mulai tidak karuan.
“Cewek cantik kok sendirian.” Pikir Radit dalam
hati.
Setelah mengumpulkan keberanian yang dia punya,
berangkatlah Radit menuju calon takdirnya di dunia. Radit duduk tidak jauh dari
Ira.
“Ha.. ha.. hal... lo..” Radit gemetaran ketika Ira
melihatnya.
“Oh, lu anak baru dari MIA 1 ya? Nama gue Ira. Salam
kenal ya?” Ira mulai memperkenalkan diri.
“Iyaa... Raditt...”
Radit melengos mendengar suara Ira dan melihat senyuman Ira.
“Kok Ira sendirian.” Radit membuka obrolan. “Yes, ini
yang gue maksud.” Kata Radit dalam hati.
“Iya nih, temen-temen gue lagi pada ulangan. Emang lu gak
ulangan?” kata Ira.
“Ulangan gue minggu depan. Karena gue masih belum
menyesuaikan pelajaran.” Radit mengobrol terus dengan si Ira. Hingga tidak
sadar bel masuk sudah berbunyi.
“Eh, masuk yuk.” Ira mengajak Radit ke kelas bersama.
“Ya Allah mimpi apa gue semalem.” Pikir Radit
dalam hati.
Memang belum seminggu Radit mendapat banyak teman, tapi,
kata Radit, dia telah menemukan calon takdirnya di masa depan.
***
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Radit melangkah keluar
kelas barunya itu. Ketika sedang di depan kelas sebelah, tiba-tiba Ira
menggenggam tangan Radit.
“Ini nomor gue, telepon ya!” bisik Ira sambil memberikan
kertas kecil di sela genggaman tangannya yang lembut.
Radit termenung setelah mendengar bisikan yang bukan bisikan
gaib. Radit hanya berdiri mematung, sambil berpikir tentang apa yang terjadi
barusan.
“Dia takdir gue.”
Dan sepertinya akan ada yang mengucapkan “Selamat Pagi,
Radit” ketika Rafid pergi ke luar kota nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar