“Kamprettt... Bangun woy!!
Udah siang wey!!” pagi ini bukan jam weker yang membangunkan Radit. Tapi
orang paling ngeselin di rumah ini. Siapa lagi kalau bukan Rafid.
“Dasar abang abnormal! Minggu nih, MINGGU!” kata Radit
dengan kesal sambil menarik selimutnya kembali.
“Kambing! Jam 6 oy! Hari Senin!” Rafid masih berusaha
membangunkan adiknya.
“Demi apa lu? Bangunin gue kampret!” Radit
langsung loncat dari kasurnya dan bergegas langsung ke kamar mandi. Rafid cuma
bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan adiknya.
“Astagfirullah...” kata Rafid dalam hati.
Hasil dari bangun kesiangan tadi, Radit hanya bisa duduk
di depan gerbang sekolahnya karena telat. Padahal dia sudah berlari sekuat yang
dia bisa. Tapi tetap saja, kesiangan ya telat. Suatu aksi akan menimbulkan
negatif reaksi.
“Apes bener. Belum sebulan sekolah udah kena telat
aja.” Gerutu Radit dalam hati.
“Iya, apes ya?” tiba-tiba Reza datang dari samping
dirinya.
“Setan!” Radit kaget dengan kedatangan Reza yang
sangat tiba-tiba itu. Tanpa salam, tanpa diundang.
“Heh! Ini temen lu. Masa iya setan.” Gerutu Reza.
“Gomen gomen. Eh lu telat juga?” tanya Radit penuh
keheranan.
“Ya lagi apes aja, ban motor kempes.” Reza menjelaskan
sebabnya telat.
“Gimana nih, gak bisa ketemuan deh sama Ira.” Banyak
pertanyaan yang berkecamku dalam hati Radit. Akibat telat dia harus membayar
mahal semuanya, termasuk tidak bertemu dengan calon takdirnya yang, belum tentu
dia bisa dapatkan.
“Ya mau gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Ayo kita
kabur!” kata Reza.
“Kabur kemana?” balas Radit.
“Lu udah pernah keliling kota ini?” kata Reza penuh
harap, agar bisa cepet-cepet kabur.
“Belum.” Radit menggeleng-gelengkan kepala.
“Ayo ikut gue!” ajak Reza sembari menyalakan motor
sportnya. Sangat matching dengan badannya yang tinggi.
“Gue? Sama lu? Boncengan? Pikir-pikir lagi deh.” Celetuk
Radit sambil naik ke motor Reza.
***
Radit memang lagi apes hari ini. Sudah telat,
tidak bertemu pujaan hati, jalan berdua pula dengan cowok. Baginya itu hal
tabu, jalan berdua dengan laki-laki. Tapi ya mau gimana lagi. Daripada Cuma
diam mematung di depan sekolah. “Mau ngamen?”
Akhirnya, motor Reza berhenti di depan sebuah taman kota.
Taman kota itu sangat indah. Dipenuhi dengan pohon beringin yang rimbun,
ditambah dengan air mancur yang sungguh indah dipandang. Dan ketika Radit duduk
di bawah pohon beringin di depan air mancur, suasana sejuklah yang dia dapat.
“Nyesel gak gue ajak kabur?” tanya Reza.
“Adem...” kata Radit.
Radit merasa dia bisa berpikir jernih ketika merasakan
suasana sejuk di sana. Dan juga, memikirkan pujaan hari, Ira Apriliani.
“Dia lagi ngapain ya di sekolah?”
“Dia mikirin gue gak yah? Gue kan gak masuk sekolah.”
“Ya Allah dia manis banget sih, kalo dibayangin mulu,
jadi gak bisa lupa.”
Saking asyiknya membayangkan Ira, dia tidak sadar Reza
sudah berlalu dengan motornya.
“Kampret emang. Pake ditinggalin segala.” Gerutu
Radit.
Waktu sudah menunjukkan jam 10. Harusnya ini sudah waktu
istirahat. Sambil tiduran di bangku taman yang panjang, Radit mencoba SMS si
Ira.
“Hei Ira...” Radit mulai mengirim SMS kepada Ira.
Tidak sampai lima menit SMS Radit dibalas.
“Hei, Dit. Lu kemana sih? Gue cariin gak ada?”
“Bener kan dia nyariin gue.” Pikir Radit.
“Heheh.. Gue telat Ra. Bangun kesiangan gue.” balasku
“Loh iya ya, lu gak biasa bangun pagi pasti haha.” Balas
Ira.
Lama mereka saling SMS-an. Hampir 30 menit mereka SMS-an.
“Eh iya, Dit. Gue ada jam Pak Sardi. Nanti lagi ya
SMS-annya? :)” kata Ira.
“Tenang.” Radit pun lega, akhirnya dia sudah selangkah
lebih maju. Dan dia tidak mungkin mundur lagi. Karena kekuatan sudah dia
dapatkan. Tinggal bagaimana dia mendapatkan hasil akhirnya.
***
Hari pun berlalu, dan hari yang semula cerah berubah
menjadi gelap. Mendung menyelimuti kota ini. Angin pun mulai bertiup dengan
kencang. Mungkin hari ini akan turun hujan, pikir Radit. Jam di tangannya masih
menunjukkan pukul 2 siang. Satu jam lagi waktu pulang sekolah.
Dan benar saja dugaan Radit, setengah jam kemudian turun
hujan. Radit pun berlalu dari kursi tamannya ke halte di depan taman. Sambil
menunggu hujan reda, Radit pun mengusir jenuh dengan memutar musik dari handphone-nya.
Handphone Radit pun bergetar. Ada SMS masuk.
“Radit, di luar hujan. Lu gak kenapa-napa kan?” ternyata
itu SMS dari Ira.
“Dia perhatian juga yah sama gue.” muka Radit
sedikit memerah, malu.
“Gapapa. Gue ada di halte depan taman kok. Daijoubu.”
Balas Radit.
“Oh yaudah deh. Yang sabar ya? Hahaha.” Balas Ira.
Setelah itu, Ira tidak SMS lagi.
Sudah setengah jam hujan tidak berhenti. Radit nyaris
tertidur di halte depan taman. Di tengah suntuknya menunggu hujan reda, Ira
datang dengan payung digenggamannya.
“Mau pulang?” kata Ira.
Sejenak Radit hanya menatapi wajah Ira yang sedikit
basah. Mungkin kena air hujan. Semakin menambah kecantikannya.
“Makasih.” Balas Radit.
Kemudian mereka berdua pulang bersama di tengah hujan
yang mengguyur, tetapi Radit merasa tenang ketika berjalan dengan Ira. Dan Ira
hanya tersenyum simpul melihat wajah Radit.
“Lu ganteng juga ya ternyata?” mendengar kata Ira semakin
membuat muka Radit memerah.
“Ihh mukanya merah tuh. Hahaha” Ira tertawa melihat muka
Radit. Manis juga ya wajah Ira jika tertawa.
“Gue harus berbuat sesuatu nih.” Pikir Radit dalam
hati. Serasa dia tidak ingin kehilangan momen berdua dengan Ira. Radit
benar-benar menginginkan Ira sebagai takdir hidupnya.
“Pencarian takdir hidupku pun dimulai.” Bisiknya
dalam hati.
***
Malam hari itu, Radit full memikirkan bagaimana
skenario yang terbaik untuk menyatakan perasaannya kepada Ira. Karena
sebelumnya, dia belum pernah pacaran. Walaupun banyak perempuan di sekolahnya
dulu yang naksir sama dia.
Radit terus memikirkan hal itu, hingga tidak sadar sudah
jam 10 malam. Dua jam dia memikirkan hal itu.
“Dit, ngapain kok diem aja?” Rafid mengagetkan Radit yang
masih saja memikirkan hal itu.
“Anu kak.. gue boleh ngomong sesuatu gak?” tanya
Radit.
“Tanya apa hah? Gue lihat muka lu merah, gue tau nih, lu
pasti lagi suka ya ama cewek?” tebakan Rafid benar adanya.
“Tau aja lu. Cuma gue bingung harus ngapain?” tanya
Radit.
“Gini aja, lu ajak ke tempat yang paling indah menurut
lu. Dan buat dia senyaman mungkin dengan lu. Jadi, lu bisa menghasilkan kesan
yang indah sama dia. Bener gak gue? Haha” jelas Rafid.
“Oh gitu. Gue coba yah?” kata Radit dengan semangat.
“Douzo. Ganbatte ne!” kata Rafid memberi semangat
kepada adiknya.
“Yosh. Aku tahu harus apa aku ini.” Pikir Radit
dalam hati.
***
Keesokan harinya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Sepulang sekolah, Radit terlebih dahulu mengirim SMS kepada Ira.
“Ira, nanti pulang bareng yuk?”
“Boleh.” Balas Ira.
“Yosh. 10%.” Kata Radit dalam hati.
Bel pulang sekolah pun berbunyi, dan mereka pun pulang
bersama. Tetapi Radit punya maksud lain, diajaklah Ira ke taman kota. Dan Radit
pun memilih bangku taman yang kemarin dia tempati sebagai tempat yang akan
menentukan 17 tahun kemajuan hidupnya nanti.
“Ira. Duduk deh.” Kata Radit.
“Iya, tumben lu ngajak gue kesini. Ada apa?” kata Ira
sambil duduk di sebelah Radit.
“Gapapa. Sesekali kita lihat-lihat pemandangan indah.
Hehe” kata Radit.
“Iya sih, gue juga udah lama gak kesini.” Kata
Ira.
Seketika dada Radit mulai bergetar, semakin deg-degan
karena sudah mulai masuk ke main event-nya. Kemudian Radit mengumpulkan
seluruh keberaniannya.
“Dit, mau kemana?” kata Ira.
Radit memetik bunga mawar yang tumbuh di dekat air mancur
itu. Lalu dia rangkai hingga seperti flower crown. Dan, main event is
begin.
“Ira, lu cantik banget.” Kata Radit sambil memakaikan flower
crown di kepala Ira.
“Makasih, Dit.” Kata Ira.
Sambil setengah berlutut di depan Ira, Radit pun
mengungkapkan isi hatinya. Saat itu juga.
“Dari awal gue pindah kesini, emang gak banyak
perempuan yang gue kenal. Tapi pas gue lihat lu. Gue merasa beda banget.
Rasanya adem banget. Dan gue merasa, lu itu takdir gue.” Kata Radit.
“Dit, gue bener-bener gak nyangka yah.” Kata Ira
dengan mata yang hampir berkaca-kaca.
“Lu mau gak jadi pacar gue?” lanjut Radit.
Dengan setengah terkejut, Ira pun menganggukkan kepalanya
tanda setuju. Girang bukan kepalang Radit melihat reaksi Ira. Serasa
perjuangannya selama ini terbayar lunas dengan hasil yang memuaskan.
“Aku sayang kamu, Radit.” Kata Ira dengan senyumnya yang
lembut.
“ Iya aku juga sa..yang...” tiba-tiba hujan mengguyur
dengan deras. Membasahi hampir seluruh tubuh Radit. Dan Radit pun tersadar,
sekarang sudah jam 6 pagi.
***
daijoubu : tidak apa-apa
douzo :
silahkan
ganbatte :
semangat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar